Pages

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 14 Juni 2011

Organic Light-Emitting Diode (OLED)

Organic Light-Emitting Diode (OLED) atau dioda cahaya organik adalah sebuah semikonduktor sebagai pemancar cahaya yang terbuat dari lapisan organik. OLED digunakan dalam teknologi elektroluminensi, seperti pada aplikasi tampilan layar atau sensor. Teknologi ini terkenal fleksibel dengan ketipisannya yang mencapai kurang dari 1 mm.















iPad 3 Menggunakan Layar OLED?



iPad 2 memang memiliki banyak pembaharuan dibagian dalam dibandingkan iPad generasi pertama, kecuali layarnya. iPad 2 masih menggunakan layar yang sama, dimana resolusinya lebih kecil dibandingkan dengan iPhone 4s yang sudah menerapkan teknologi retina display. Akankah ada perubahan pada layar iPad 3 nantinya?
Banyak rumor berkembang, bahwa Apple melalui staffnya Tim Cook telah mengunjungi Samsung di Korea Selatan untuk membicarakan penggunaan layar OLED untuk generasi tablet berikutnya. Tentu saja, penggunaan layar OLED sangat mahal apalagi untuk ukuran tablet 10 inci. Ini memungkinkan harga yang melonjak tinggi untuk iPad 3.


Selain itu PSP2 juga pake OLED lho???



Sony akan mengumumkan perangkat PlayStation Portable terbaru mereka yang disinyalir akan memiliki nama PSP2, menurut rumor yang keluar dari Jepang rencananya perangkat game konsol portabel ini akan hadir pada akhir bulan ini.
rencananya perangkat tersebut akan memiliki layar OLED dimana layar ini memiliki spesifikasi yang lebih baik dari pada perangkat PSP sebelumnya dan akan hadir juga fungsi koneksi Internet melalui 3G yang dibutuhkan untuk mengakses Internet, mengunduh game dan bergabung dengan game-game multiplayer secara online, namun sejauh ini akses Internet untuk penggunaan game online tersebut masih terbatas untuk jaringan DoCoMo yang ada di Jepang, jadi sudah dipastikan bahwa perangkat ini akan hadir pertama kali untuk pasar Jepang. Namun hingga tulisan ini dibuat, berita mengenai penggunhaan jaringan DoCoMo ini masih sebatas rumor.
Ini berarti bahwa perangkat PSP2 akan bersaing secara langsung dengan perangkat yang dibuat oleh perusahaan yang sama Sony Ericsson Xperia Play, namujn tentu kita semua tahu bahwa fungsi utama dari PSP2 adalah konsol game dan Xperia Play memiliki fungsi utama sebagai ponsel.
Pasar konsol game sepertinya sedang kembali bergeliat karena belakangan Nintendo juga tengah menyiapkan konsol game portable baru yang ebrtajuk Nintendo 3DS yang kabarnya akan mulai dirilis kepasaran pada kuartal pertama tahun 2011. Selain memiliki fitur layar 3D tanpa menggunakan kacamata Nintendo juga akan menjejali perangkat konsol game tersebut dengan kamera, pemutar musik dan browser Internet.

Sabtu, 11 Juni 2011

Cara Membuat Flag Counter di Blog

Caranya :

1. Buka halaman INI





2. Nah, setelah keluar halaman ini, silahkan edit pengaturannya.

>> Maximum Flags to Show = bendera yang dtampilkan

>> Columns of Flags = kolom

yang lainnya silahkan diedit sendiri




3. Lalu, klik “Get Your Flag Counter”




4. Apabila muncul halaman seperti ini, klik Skip aja






5. Lalu, pilih icon WordPress.





6. Lalu, isikan Username = yang biasanya dipake login ke wordpress.com

Password = password yang biasanya dipake buat login di wordpress.com

Blog : alamat blogmu

Lalu, klik Post






7. Kalau sudah selesai, akan ada tulisan “Item Posted. Thank You”


8. Nah, sekarang pergi ke Dasbor >> Tulisan >> All Post






9. Cari artikel yang berjudul “(tanpa judul)” lalu klik SUNTING





10. Pilih menu HTML





11. Setelah muncul kode-kode, copy kode itu dan pastekan di TEXT AREA (ada di Dasbor>>Tampilan>>Widget) seret text ke sidebar.






12. Pastekan kodenya di bawah judul, dan klik SAVE





13. Selesai. Sekarang widget ini sudah ada di blogmu :)
Selamat Mencoba

Kamis, 09 Juni 2011

Good Laboratory

Good Laboratory Practice
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search

The examples and perspective in this article may not represent a worldwide view of the subject. Please improve this article and discuss the issue on the talk page. (October 2009)
In the experimental (non-clinical) research arena, the phrase good laboratory practice or GLP specifically refers to a quality system of management controls for research laboratories and organizations to try to ensure the uniformity, consistency, reliability, reproducibility, quality, and integrity of chemical (including pharmaceuticals) safety and efficacy tests.
GLP was instituted following cases of animal test fraud by pharmaceutical and industrial chemical (mainly pesticide) manufacturers. Industrial BioTest Labs (IBT) was the most notable case, where thousands of safety tests for chemical manufacturers were falsely claimed to have been performed or were so poor that police investigators could not piece together what work had been done...even though IBT superficially delivered the test results their contracts with the manufacturers specified. [1]
The original GLP regulatory mandate was promulgated in 1978 by US-FDA (though they may have got it from the New Zealand medicines agency) and published in the Federal Register 43 FR 59985-60020. It was followed a few years later by US-EPA, and (as outlined in the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Principles of GLP in 1992) the OECD has since help promulgate it to many countries, helping them place it into their national regulations.
GLP applies to nonclinical studies conducted for the assessment of the safety or efficacy of chemicals (including pharmaceuticals) to man, animals and the environment. An internationally recognized definition of GLP can be found on the website for the Medicines and Healthcare products Regulatory Agency-UK which defines GLP as:
Good Laboratory Practice (GLP) embodies a set of principles that provides a framework within which laboratory studies are planned, performed, monitored, recorded, reported and archived. These studies are undertaken to generate data by which the hazards and risks to users, consumers and third parties, including the environment, can be assessed for pharmaceuticals (only preclinical studies), agrochemicals, cosmetics, food additives, feed additives and contaminants, novel foods, biocides, detergents etc.... GLP helps assure regulatory authorities that the data submitted are a true reflection of the results obtained during the study and can therefore be relied upon when making risk/safety assessments.
GLP, a data quality system, should not be confused with standards for laboratory safety - appropriate gloves, glasses & clothing to handle lab materials safely.

Rabu, 08 Juni 2011

coruptor

Accord With Comptroller Will Help Attorney General Pursue Corruption Cases
By NICHOLAS CONFESSORE
Published: May 22, 2011
• Recommend
• Twitter
• Sign In to E-Mail
• Print
• Single Page


Reprints
• ShareClose
o Linkedin
o Digg
o MySpace
o Permalink
o

Attorney General Eric T. Schneiderman and Thomas P. DiNapoli, the state comptroller, have entered into an agreement that will grant Mr. Schneiderman powers to criminally prosecute corruption involving taxpayer money, significantly expanding the attorney general’s authority to pursue public integrity cases.
Enlarge This Image

Katie Orlinsky for The New York Times
Comptroller Thomas P. DiNapoli, left, and Attorney General Eric T. Schneiderman are collaborating on public integrity.
Under the agreement, the comptroller and the attorney general will establish a joint task force on public integrity. Mr. Schneiderman’s prosecutors will work with Mr. DiNapoli’s investigators and auditors looking into legislative earmarks, state pensions and government contracts.
But in a twist, Mr. DiNapoli has also agreed to employ a little-known provision of state law to refer any findings from joint investigations to Mr. Schneiderman for criminal prosecution.
“We’ll coordinate our respective roles to uncover and prosecute government waste, fraud and abuse,” Mr. DiNapoli said in a statement. “This is a powerful message: New York’s two independently elected oversight officials are partnering together to ensure integrity and accountability to every level of government in New York State.
The arrangement could make it easier for Mr. Schneiderman to investigate and root out certain kinds of public corruption than past attorneys general. And it comes as Gov. Andrew M. Cuomo is seeking more aggressive and independent enforcement of state ethics laws and broader disclosure of lawmakers’ outside employment.
“It could be a very effective approach,” said Eric R. Dinallo, who headed the securities bureau in the attorney general’s office under Eliot Spitzer and was later superintendent of the State Insurance Department. “If you can’t get legislative relief around ethics issues in government and you’re trying to get jurisdiction, sometimes the law has all the jurisdiction you need — if you look at it in a creative way.”
The agreement between Mr. Schneiderman and Mr. DiNapoli has significant limits: The attorney general will still lack standing to investigate allegations of criminal violations of election law, or to investigate the Legislature for offenses unrelated to the expenditure of state money, like a lawmaker’s failure to disclose outside income. Mr. Cuomo is hoping to increase scrutiny in some of those areas through a comprehensive ethics deal with the Legislature; failing that, he could appoint an investigative commission under the state Moreland Act, though such a commission would be unable to bring criminal prosecutions.
But the new joint task force will give Mr. Schneiderman powerful legal tools to tackle a host of other problems that have sullied New York government in recent years: pension padding, no-show jobs, abuse of legislative earmarks, and fraud at the state’s secretive public authorities.
“Expanding the attorney general’s power to prosecute public corruption will be a major element of our comprehensive approach,” Mr. Schneiderman said in a statement.
Under the agreement, which was reached last week, Mr. Schneiderman subpoenaed a local development corporation in Monroe County and its prime contractor over a $224 million upgrade of the county’s emergency communications system. Some local Democratic officials have criticized the project, approved in 2009 by the Republican county executive and Republican-controlled County Legislature, alleging secrecy and potential conflicts of interest.
Mr. Schneiderman’s subpoenas were accompanied by a notice from Mr. DiNapoli’s office, informing officials of an impending audit.
Under state law, the attorney general cannot unilaterally investigate public officials for breaking campaign finance rules, violating ethics laws or even taking bribes. As a result, major investigations of New York officials in recent years have been conducted chiefly by district attorneys or federal prosecutors with jurisdiction over bribery, kickbacks, and other criminal forms of corruption.
Attorneys general have been able to pursue some corruption cases. Mr. Cuomo, for example, investigated the state pension fund and Pedro Espada Jr., the former state senator from the Bronx, using laws that give the attorney general jurisdiction over securities fraud and charities. Mr. Cuomo sought legislation to expand the attorney general’s criminal powers to investigate other forms of political corruption but was rebuffed by the Legislature.

KONSEP RETWEET DAN REPLY TWITTER

KONSEP RETWEET DAN REPLY
Twitter, sebagai salah satu microblog dan situs jejaring sosial baru, akhir-akhir ini menjadi cukup populer. Dari beberapa informasi yang berhasil saya kumpulkan, pengguna twitter di Indonesia menempati posisi lima besar teratas dari semua pengguna twitter di dunia. Sangat mengesankan bukan. Dari banyaknya pengguna twitter di indonesia ini, muncul sebuah komunikasi dua arah memanfaatkan twitter yang memungkinkan setiap pengguna twitter dapat merespons dan respons balik twitter pengguna yang lain.
Banyak pengguna twitter yang masih bingung bagaimana cara merespons tweet temannya dengan baik dan tidak menimbulkan kebingungan yang akhirnya menimbulkan kesalah pahaman. Memang pihak Developer twitter menyisipkan fitur Reply untuk membalas tweet dari user lain. Meski sudah ada fitur tersebut, masih banyak pengguna twitter yang masih bertanya-tanya dan bingung, hal ini dikarenakan fitur reply pada twitter tidak jelas untuk reply twit yang mana.
Bayak pengguna twitter yang salah kaprah menafsirkan fungsi Retweet ini. Fitur ReTweet yang ada di twitter sesungguhnya difungsikan untuk me-Tweet ulang tweet teman kita sehingga followers kita yang tidak follow teman kita tersebut dapat membaca tweet teman kita tersebut. Namun saking kreatif dan inovatifnya teman-teman pemakai twitter, akhirnya mereka memanfaatkan fungsi RT ini untuk membalas tweet pengguna twitter yang lain, hanya saja mereka perlu melakukan sedikit modifikasi atau edit ReTweet sebelum me-Tweet jawaban tersebut. Dan Edit ReTweet ini hanya bisa dilakukan di luar site utama twitter, entah itu Twitter For Web atau Mobile Twitter yaitu dengan memanfaatkan site pihak ke-3 yang menyediakan layanan Twitter Client seperti, dabr, tweete, ubertwitter, dll.


Memanfaatkan fitur ReTweet untuk membalas Tweet teman kita memang tidak salah dan merupakan hal yang sah-sah saja, tetapi alangkah baiknya jika kita melakukannya sesuai dengan fungsi yang ada. Dan terkadang ada beberapa Tweepes (pengguna twitter) yang risih dengan RT yang berulangkali dan bertumpuk-tumpuk (lihat gambar di atas), dan ada juga yang bilang aktifitas seperti ini penuh-penuhin Timeline. Nah lantas bagaiamana cara balas tweet yang bener dan tidak membuat pengguna twitter yang lain merasa risih?
Berdasarkan pengalaman dan apa yang saya liat dari teman-teman yang nge-Tweet, ada cukup banyak cara yang bisa digunakan untuk membalas tweet teman kita tanpa membuat teman kita risih. caranya adalah dengan melakukan reply langsung dan menambahkan re : twit mana yang di reply. Contoh variasinya adalah sebagai berikut :
1. Reply dengan nama tweet teman di depan disusul tweet mana yang kita reply. Syntaxnya : @namaTwitTemanJawaban atas twit teman kitare :tweet yang direply. Untuk tweet yang direply usahakan jangan di tulis semua, ambil fokusnya saja biar tidak terlalu menghabiskan character kita. Contohnya liat gambar di bawah ini.


2. Reply dengan jawaban di depan kemudian diikuti tweet mana yang kita reply. Syntaxnya : Jawaban tweetnya@namaTwittemanre :tweet yang direply. Hampir sama dengan yang pertama, usahakan tweet yang direply jangan di tulis semua, ambil fokusnya saja. Contohnya lihat gambar di bawah ini.

Untuk melakukan reply ini tidak ada fitur khusus atau otomatis, kita melakukan modifikasi dan edit manual. Dan saya rasa tidak ada kesulitan berarti untuk melakukan hal ini.
Nah mudah bukan?? Apa yang saya tulis di postingan kali ini bukanlah pakem atau standar yang harus dipatuhi untuk nge-Tweet, melainkan hanyalah sebuah tulisan berbagi ilmu bagaimana membuat reply tweet yang baik dan tidak membuat risih orang lain. Jika anda masih suka dengan cara RT dan RT yang bertumpuk-tumpuk ya silahkan itu hak anda. Kalo saya lebih suka reply dengan 2 cara di atas.
By: http://frenavit.com/konsep-retweet-dan-reply-di-twitter.html

my profil

https://lh4.googleusercontent.com/-eqjngFuEOLA/Te8iA_hdiUI/AAAAAAAAACI/2M7bmJAQ-BQ/s288/93.gif

Selasa, 07 Juni 2011

Skin Puncture

Skin Puncture Collection Of Plasma, Serum, & Whole Blood

Purpose:Procedure for the collection of blood by skin puncture technique
Materials:
The following equipment should be in order before proceeding with the skin puncture procedure:

1. Blood Drawing Site:
1. For Finger Stick Procedures: The drawing area should be wide enough for the patient's arm to rest comfortably. A chair with a wide, flat, clean surface on the arms will suffice or the patient may be lying in bed.

2. For inpatient Pediatric patients, the Pediatric treatment room should be used whenever possible.

2. Puncture Equipment: Spring-loaded lancets (Microtainer) are available in regular point (blue color) or medium point (yellow color). Blue lancets penetrate 2.4 mm and are used for finger sticks while yellow lancets penetrate 3.2 mm and are used for heel sticks. Also available are 3 sizes of Tenderfoot (used for finger sticks). These range in penetration depth from 0.85 mm (PINK/WHITE), 1.25 mm (BLUE/WHITE), to 1.75mm (RED/WHITE). There are also three sizes of Tenderfoot (heel sticks). These range in penetration depth from 0.85 mm (WHITE), 1.0 mm (BLUE/PINK), to 2.0 mm tissue damage than the spring-loaded lancets. See Pediatric "Special Considerations" for further explanation of these skin puncture devices.

3. Gauze: Non-sterile 2x2 inch gauze squares may be used for finger sticks or heel sticks.

4. Blood Collection Devices: Microtainers are available in 5 types:
1. Pick-top microtainers which contain no additives for blood bank procedures or for procedures not requiring the serum separator gel.

2. Red-top microtainers containing a small amount of serum separator gel for producing serum.

3. Purple-top microtainers containing EDTA anticoagulant for use in hematology procedures.

4. Green-top microtainer containing heparin and separator gel for use in chemistry procedures.

5. Gray-top microtainer containing Na fluoride/K oxalate for use in specific chemistry procedures.

6. Microhematocrit capillary tubes are used for collecting blood for the microhematocrit test. These are self-sealing. Natelson capillary tubes may be used for collecting blood directly from a heel stick. The tube can then be emptied into the appropriate microtubes, if required.


5. Gloves: Latex & non-Latex are available in various sizes and may be powdered or be powder free.

6. Antiseptics: Individually packaged 70% isopropyl alcohol wipes may be used to clean the puncture site for most specimens. Povidone-iodine swabs may also be used.

7. Large Test Tube: It may be impractical to label individual microtainers or capillary tubes. Instead, place the sealed or capped tubes in a single large test tube and label the test tube with the computer specimen label and the microtainers with the aliquot labels. If only adhesive labels available, label the specimen instead of the test tube.

8. Adhesive Labels: 1.0x2.5 inch adhesive labels and a permanent marking pet should be available for labeling the specimens. One may also use an addressograph label with name and medical record number.

9. Warm Washcloth: A clean, warm, wet washcloth may be used to warm the skin puncture site. It should be 42° C., or 108 degrees F., with additional warm water.

10. Chucks: A clean chucks should be available for heel sticks to protect the person holding the baby from dripping blood.

11. Sharps Disposal Container: An OSHA acceptable puncture-proof red container marked "Biohazardous" for disposing of lancet or partially filled capillary tubes.

12. Disinfectant: A plastic wash bottle with ASCEND germicidal solution should be available for cleaning up small blood spills.

Specimen Collection Procedure

Routine Skin Puncture Procedure

1. Assemble necessary equipment described in the Materials and Equipment section of this procedure.

2. Wash hands and put on gloves.

3. Identify patient.
1. Inpatient - the patient's name and Medical Record Number on their ID bracelet much match the requisition or the computer label.

2. Outpatient - we make initial ID by calling patient's name. This must be verified by asking or confirming with a parent or guardian the birth date of the patient.

4. Select the appropriate Microtainers for the specimens to be collected. Any Microtainers containing additives should be tapped to dislodge additives from the walls and stopper.

5. Position the patient.
1. For Finger Sticks: The patient should be seated with his or her non-dominant arm resting comfortably on the blood-drawing chair arm support or on the bed.

2. For Heel Sticks: The baby should be held by another adult if possible. Remove the baby's clothes and blanket so they will not interfere. A protective barrier should be placed under the baby. Protect the person holding the baby from possible blood contamination. If there is no one available to assist, position the baby either on their back or stomach in the center of the examination table.

NOTE: for infants up to the age of 6 months, the heel is usually the site of choice as the fingers of infants are too small for the trauma of a skin puncture.

6. Select the puncture site.
1. For Finger Sticks: For children and adults, use the 3rd or 4th finger of the non-dominant hand. The outer and upper region of the fingertip, halfway between the center of the fingerpad and the edge of the fingernail, is the site of choice. SEE DIAGRAM #3. One may refer to "Special Consideration" section on use of the Tenderlett

2. For Heel Sticks: Avoid previous heel stick sites. The site should be on the plantar surface of the heel, beyond the lateral and medial limits of the calcareous (heel bone). The heel bone is very close to the surface of the skin at the back of the heel, and could be damaged by a puncture in this area. The puncture should NEVER be performed on the central area of the infant's foot (area of the arch). SEE DIAGRAM #4. One may refer to "Special Considerations" section on use of the Tenderfoot.


7. Reassure the patient, if possible, by explaining the procedure.

8. Warm the puncture site, if necessary. Use a warm, wet washcloth or chucks to warm the puncture site for at least 3 minutes. Warming the site to 42 C can increase blood flow up to sevenfold.

9. Cleanse the puncture site. Use the alcohol or povidone-iodine prep to wipe the area vigorously. Allow the area to air dry or dry the skin with 2x2 gauze before the continuing. If the side is not dry, the blood will spread over the area making it difficult to collect and there is the possibility of contamination from the cleansing agent.

10. Open the puncture device packaging, being careful not to contaminate the side with the cutting device.

11. Perform the skin puncture.
For Finger Sticks:

1. Exert pressure on the finger tip by holding it with your index finger and thumb. Pressure should be directed upward.

2. Use the device to make a quick puncture into the site selected. Release it according to manufacturer's instructions.

3. Release the finger and wait for the first drip of blood to form.

4. Wipe away the first drop of blood. Avoid excessive squeezing or "milking" as tissue fluids will interfere with testing.

5. Collection of Lavender microtainer should be drawn first, with other types of microtainers following. Wipe puncture site between microtainer collection to prevent cross contamination and ensure further bleeding.
1. (Sartstdt) Lavender microtainers
1. Be sure vent on the collection top is facing upwards.

2. Place collection top at 45 degree angle to the drop of blood. Blood will flow by capillary action down the top and into the tube. Do not shake the tube as the capillary action may be lost. Fill the microtainer between the 250- and 500 ul mark. Remove collection top and replace cap. Mix gently 5-7 times.
2. "Scoop" type microtainers
1. Touch the top of the collector to the under surface of the drop and channel blood flow in groove of collector. Blood will flow freely through the collector and down the tube wall. When collection is complete, replace the collector with appropriate cap.

2. Always try to avoid "scooping" along the skin. This method will pick up micro clots that may interfere with testing.
6. Apply pressure to stop the bleeding.
For Heel Sticks:
1. Grasp the foot firmly and puncture the selected site.

2. Release the foot and allow the first drips of blood to form.

3. Wipe away the first drop of blood and avoid excessive squeezing.

4. Hold the foot firmly and collect the blood. The same steps can be following as in steps e and f of the finger stick procedure.

5. Release the foot and allow the baby to kick from time to time as this will increase the blood flow.

6. Wipe the site between specimen collections.

7. When specimen collection is complete, hold gauze on the puncture site and apply mile pressure. Hold it until the bleeding stops. Do not apply tape.


12. Dispose of the puncture device in the biohazardous sharps container.

13. Seal or cap the tubes.

14. Confirm that the patient is all right. Confirm the bleeding has stopped and the patient feels or looks normal.

Special Circumstances

Excessive Bleeding:

1. Apply direct pressure to the puncture site while bleeding continues.

2. If the bleeding persists more than 5 minutes, call the physician.

Handling Considerations

Universal Precautions apply to all specimens of blood, serum, plasma, blood products, vaginal secretions, semen, cerebrospinal fluid, synovial fluid, pleural fluid, peritoneal fluid, pericardial fluid, amniotic fluid, and concentrated HIV or HBV viruses. Any specimen of any type which contains visible traces of blood should be handled using Universal Precautions.

Capillary blood samples should be processed as soon as possible after being drawn. Follow the instructions outlined in the venipuncture procedure for preparing serum, plasma, or whole blood. The following general precautions for capillary specimens should be observed:

1. Keep Specimen tubes capped. This should be done for safety reasons as well as specimen preservation.

2. Avoid specimen agitation. Hemolysis (the breakdown of red blood cells) will occur when the specimen is agitated. A certain amount of hemolysis is unavoidable, but it would be minimal. Badly hemolyzed specimens are unacceptable for most chemistry and hematology procedures. Avoid shaking the specimen and always use gently inversion to mix specimens. Always handle specimens with care.

3. Adhere to specimen time constraints. Timing is critical in most chemistry and hematology procedures. Follow manufacturer's recommendations for minimum and maximum times which specimens may be left in the tube. The time constraints on capillary specimens are more stringent then those on venous samples obtained by venipuncture.

4. Refrigerate specimens not tested immediately. Anticoagulated capillary specimens should be stored at 2-8 degrees C. if they will be not bested within 4 hours. Heat may cause hemolysis.

PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT DALAM BEDAK TABUR SECARA ALKALIMETRI

Nama : Gani Septa Anggara
NIM : A101.14.019

PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT DALAM BEDAK TABUR SECARA ALKALIMETRI
Definisi
Alkalimetri (Alkali = Basa atau metri = pengukuran) diartikan sebagai titrasi untuk penetapan asam dengan larutan standar basa sebagai alat ukurnya. (Suharno, 1989)
Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yaitu antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Alkalimetri adalah penetapan adar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. (Mursyidi dan Rohman, 2006)

Prosedur Kerja Penetapan Kadar Asam Salisilat Secara Alkalimetri
Timbang seksama 3gram, larutkan dalam 15ml Etanol (95%)P hangat yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol P tambahkan 20ml air. Titrasi dengan Natrium Hidroksida 0,5N menggunakan indikator larutan merah fenol P.

1ml Natrium Hidroksida 0,5N setara dengan 69,06mg C7H6O3
(Farmakope Ed.III, 1979)

Cara Kerja Sampel
Prosedur Standarisasi NaOH
Dipipet 10ml larutan H2C2O4.2H2O dimasukkan kedalam erlenmayer
Ditambahkan 2 tetes indikator PP1%
Dititrasi dengan larutan NaOH standar dari tidak berwarna menjadi warna merah muda
Cara Kerja Sampel
Uji Kualitatif
Reaksi Warna
Sejumlah zat dalam Etanol 95%, tambah dengan larutan besi (III) klorida dalam Etanol 90% akan memberikan warna violet
Reaksi Asam-Basa
Sejumlah larutan asam Salisilat, ditambah dengan beberapa tetes larutan merah metil, hingga terjadi reaksi asam dan membentuk warna merah.
Pembentukan Ester
Sejumlah asam salisilat ditambah beberapa tetes asam sulfat pekat dalam metanol kemudian panaskan akan tercium bau metil salisilat (bau gondopuro)
Uji Kuantitatif
Titrasi Asam Basa
Timbang seksama 10gram sampel, tambahkan 20ml Akohol netral 95% dalam gelas ukur dan ditetesi indikator PP1% ±15 tetes. Tambahkan aquadest 40ml dan 0,5ml indikator PP1%. Titrasi dengan larutan NaOH standar sampai terbentuk warna merah muda.

Reaksi Kimia
Reaksi antara Asam Salisilat dengan Natrium Hidroksida

COOH COONa

OH + NaOH OH + H2O

Reaksi antara Asam Oksalat dengan Natrium Hidroksida

H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O

Perhitungan Kadar
Penentuan Kadar Asam Salisilat
1ml Natrium Hidroksida 0,1N setara dengan 13,812mg C7H6O3
Kadar Asam Salisilat =(N titran x Vtitran x 13,812)/(0,1 x berat sampel) x 100%







DAFTAR PUSTAKA

Suharno. 1989. Ilmu Kimia Analitik. Surabaya: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Mursyidi, A., dan Rohman, A. 2006. Pengantar Kimia Farmasi Analisis Volumetri dan Gravimetri. Yogyakarta: Yayasan Farmasi Indonesia bekerjasama Pustaka Pelajar (69-76)
Tim Penyusun Farmakope. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia (hal 57)
Purwaningrum, Ratna Chandra. 2008. KTI Penetapan Kadar Asam Salisilat Dalam Bedak Tabur Secara Alkalimetri. Surakarta: Akademi Farmasi Nasional Surakarta

PERADANGAN DAN SHOCK

PERADANGAN

A. Definisi
Radang (bahasa Inggris: inflammation) adalah respon dari suatu organisme terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi.
Radang mempunyai peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi:
• memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan performa makrofaga,
• menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi,
• mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.

B. Gejala Peradangan
Panas dalam bisa jadi gejala awal peradangan serius. Penyebabnya bisa bakteri ataupunvirus. Peradangan ialah cara paling dasar dan paling alami dilakukan tubuh manusia sebagai reaksi terhadap infeksi, iritasi dan luka-luka tubuh lain. Tampilan utama dari peradangan biasanya berupa bagian tubuh yang kemerahan, terasa peningkatan temperature pada beberapa bagian tubuh, pembengkakan dan munculnya rasa nyeri. Peradangan termasuk juga jenis respons kekebalan nonspesifik. Peradagangan merupakan proses saat sel darah putih bersama-sama dengan bahan-bahan kimiawi dalam tubuh melindungi tubuh dari infeksi dan substansi-substansi asing, seperti bakteri dan virus. Pada beberapa kasus, system kekebalan tubuh memancing respons berupa peradangan, padahal tidak ada substansi asing yang harus dilawan.Pada kasus seperti itu, sistem perlindungan tubuh justru bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringannya sendiri. Saat peradangan terjadi, bahan-bahan kimiawi dilepaskan dari sel darah putih menuju jaringan darah atau jaringan tubuh yang dimasuki substansi asing. Pelepasan bahan kimiawi tersebut akan mengakibatkan peningkatan volume aliran darah menuju bagian yang dimasuki sustansi asing itu. Hal itu bisa menyebabkan kemerahan dan peningkatan temperatur di darah tersebut. Beberapa zat kimia bahkan bisa bocor hingga memenuhi jaringan yang dimasuki zat asing, kemudian membengkak. Proses peradangan juga dapat merangsang syaraf perasa sakit sehingga menimbulkan rasa nyeri.
Beberapa gejala peradangan biasanya ditandai timbulnya kemerahan pada bagian tubuh tertentu, peningkatan suhu, nyeri persendian atau rasa kaku pada sendi.Selain itu, peradangan meliputi beberapa gejala yang mirip flu biasa, seperti demam, kedinginan, rasa lelah, kekurangan tenaga, pusing-pusing, kehilangan selera makan dan otot kaku.

C. Tanda-Tanda Peradangan
Gambaran makroskopik peradangan sudah diuraikan 2000 tahun yang lampau. Tanda-tanda radang ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup pada abad pertama sesudah Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda radang utama. Tanda-tanda radang ini masih digunakan hingga saat ini. Tanda-tanda radang mencakup:
• rubor (kemerahan)
• kalor (panas)
• dolor (rasa sakit)
• tumor (pembengkakan)
• functio laesa (perubahan fungsi)
(Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell & Cotran, 2003).
Umumnya, rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang memiliki suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang lebih banyak daripada ke daerah normal (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002). Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang (Abrams, 1995).

D. Mekanisme Radang
• Fase inflmasi atu fase lag
Berlangsung sampai hari ke lima,akibat luka terjadi pendarahan.ikut keluar trombosit dan sel radang. Trombosit mengeluarkan prostaglandin,tromboksanan bahan kimia tertentu dan asam amino ertentu yang mempengaruhi pembekuan darahmengetur tonus dinding pebuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit.
Tejadi faso konstriksi dan proses penghentian pendarahan.sel radan gkeluar dari pembulau darah secara diapedesisdan menuju daerah luka secarakemotaksis. Sel mast mengeluarkan serotonin dan histmin yang meninngikan permeabilitas sel,terjadi eksudasi cairan edema.
Pertauatan pada fase ini hanya oleh fibrin,belum ada kekuatan pertautan lukasehingga disebut fase tertinggal atau fase lag.

• Fase proliferasi atau fibroplasi
Berlangsung dari hari keenam sampai dengan tiga minggu. Terjadiproses prolifrasi da pembentukan fibrobalast yang berasal dari sel-sel mesenkim. Fibroblas menghasilkan mukopolisakaridadan serat kolagen yang erdiri dari asam-asam amino glisin,prolin,dan hidroksi prolin.mukopolisakarida mengatur deposisi serat-seratkolagen yang akan mempertaukan tepi luka. Pada fase ini luka diisi oleh sel-sel radang fibroblast dan serat-serat kolagen,kapiler-kapiler baru membentuk jaringan kemerahan dengan permukaan yang tidak rata disebut jaringan granulasi
.
• Fase remodeling atau fase reorpsi
Dapat berlangsung berbulan-bulandan berakhir bila tanda radang sudah hilang.parut dan sekitarnya berwarna pucat,tipis,lemas,tak ada rasa sakt maupun gatal.




SHOCK

A. Definisi
Shock ialah suatu keadaan yang disebabkan oleh defesiensi sirkulasi akibat disparitas (ketidak seimbangan) antara volume derah dengan ruang susunan vaskuler. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan ini ialah:
a) faktor yang meyebabkan bertambahnya kapasitas ruang susunan vaskuler
b) faktor yang nenyebabkan bcrkurangnya volume darah.
Shock sebenarnya suatu keadaan yang terdiri atas kupulan gcjala, jadi suatu sindrom, dan depat bersifat primer atau sekunder (true strock).
Shock Primer
Pada shock primer tcrjadi defisiensi sirkulasi akibat ruang vaskuler membesar karena vasodiletesi yang asalnya neurogen.
Ruang vaskulcr yang membesar mengakibatkan daerah seolah-olah diterik dari sirkulasi umum,dan segera masuk ke dadalam kapiler dan venule alat-alat dalam (viscera).
Peristiwa ini sering terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan keras, rasa sangat nyeri atau rangsang yang berasal dari jaringan yang rusak. Juga dapat disebabkan rasa nyeri yang sangat keras pada beberapa penyakit tertentu seperti radang akut pankreas, hernia incarcalita , atau oleh reaksi-reaksi emosi seperti keadaan takut yang mendadak, kesusahan yang sangat, karena melihat keadaan yang mengerikan seperti pada orang yang tidak biasa melihat daerah banyak akibat luka bcsar. Penderita menjadi sangat pucat, pingsan, sangat lemah. denyut nadi kesil dan cepat, disertai tekanan dareh yang rendah. Biasanya shock hanya sebentar saja, kecuali apabila terdapat trauma yang keras, perdarahan; dalam hal ini akan terjad shock sekunder.
Shock Sekunder
Pada shock sekundcr terjadi gangguan cairan yang menyebabkan defisiensi sirkulasi perifer disertai jumlah volue darah yang mcnurun, aliran darah yang bcrkurang, hemokonsentrasi dan fungsi ginjal yang terganggu. Sirkulasi yang bcrkurang tidak tcrjajidi segera setelah terkena kerusakan, tetapi baru beberapa waktu sesudahnya; olch karcna itu disebut shock sckunder atau delayed shock.

B. Gejala Shock
Gejala-gejalanya terjadinya shock ialah:
• rasa lesu dan lemas kulit yang basah
• kolaps vena terutama vena-vena superficial
• pernapasan dangkal
• nadi cepat dan lemah
• tekanan darah rendah
• oliguria dan kadang-kadang disertai muntah-muntah yang berwarna seperti air kopi akibat perdarahan dalam lambung (hematemesis).
Apabila keadaan terus progresif, maka penderita menjadi apatik, kemudian stupor, koma dan akhirnya dapat meninggal.
C. Mekanisme Shock
Mekanisme terjadinya shock, terjadi dalam 3 tahap:
1. Tahap nonprogresif
Mekanisme neurohormonal membantu mempertahankan curah jantung dan tekanan darah. Meliputi refleks baroreseptor, pelepasan katekolamin, aktivasi poros rennin-angiotensin, pelepasan hormonan antidiuretik dan perangsangan simpatis umum. Efek akhirnya adalah takikardi, vasokontriksi perifer dan pemeliharaan cairan ginjal. Pembuluh darah jantung dan otak kurang sensitive terhadap respon simpatis tersebut sehingga akan mempertahankan diameter pembuluh darah, aliran darah dan pengiriman oksigen yang relative normal ke setiap organ vitalnya.
2. Tahap progresif
Jika penyebab shock yang mendasar tidak diperbaiki, shock secara tidak terduga akan berlanjut ke tahap progresif. Pada keadaan kekurangan oksigen yang menetap, respirasi aerobic intrasel digantikan oleh glikolisis anaerobik disertai dengan produksi asam laktat yang berlebihan. Asidosis laktat metabolic yang diakibatkannnya menurunkan pH jaringan dan menumpulkan respon vasomotor, arteriol berdilatasi dan darah mulai mengumpul dalam mikrosirulasi. Pegumpulan perifer tersebut tidak hanya akan memperburuk curah jantung, tetapi sel endotel juga berisiko mengalami cedera anoksia yang selanjutnya disertai DIC. Dengan hipoksia jaringan yang meluas, organ vital akan terserang dan mulai mengalami kegagalan. Secara klinis penderita mengalami kebingungan dan pengeluaran urine menurun.
3. Tahap irreversible
Jika tidak dilakukan intervensi, proses tersebut akhirnya memasuki tahap irreversible. Jejas sel yang meluas tercermin oleh adanya kebocoran enzim lisososm, yang semakin memperberat keadaan syok. Fungsi kontraksi miokard akan memburuk yang sebagiannya disebabkan oleh sintesis nitrit oksida. Pada tahap ini, klien mempunyai ginjal yang sama sekali tidak berfungsi akibat nekrosis tubular akut dan meskipun dilakukan upaya yang hebat, kemunduran klinis yang terus terjadi hamper secara pasti menimbulkan kematian


D. Macam-Macam Shock
• Shock hipovolemik (disebabkan kurangnya volume darah intravaskular)
Selama shock hipovolemik mengakibatkan aliran balik vena ke jantung menurun sehingga pengisian ventrikel menurun dan mengakibatkan stroke
• Shock kardiogenik (disebabkan kegagalan jantung untuk memompakan darah)
Kegagalan jantung mengakibatkan ketidakmampuan memepertahankan CO dan perfusi ke jaringan
• Shock sepsis (disebabkan produksi toksin menjadi infeksi)
Shock sepsis disebabkan efek toksin yang diproduksi agen infeksius
• Shock neurogenik (disebabkan perubahan perubahan tegangan vaskuler)
ketidakseimbangan stimulasi saraf simpatis dan saraf parasimpatis pada otot pembuluh darah
• Shock anaphylactic (disebabkan reaksi imunologik)
Shock anaphylactic terjadi karena reaksi hypersensitif; perubahan fisiologi terjadi akibat seseorang kontak dengan allergen







DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Radang diunduh tanggal 03 Juni 2011
http://w4h48.multiply.com/reviews/item/6 diunduh tanggal 03 Juni 2011
http://satkes-alfah.blogspot.com/2010/06/mekanisme-terjadinya-shock.html diunduh tanggal 03 Juni 2011

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More